|
PENULIS itu belum mati!
Dia masih terpekur di depan layar komputer. Kesepuluh jarinya masih kaku di atas tuts keyboard. Memang, sudah tiga puluh menit berlalu, dan dia belum lagi melakukan apa-apa. Belum lagi menulis apa-apa. Tapi dia belum mati! Dia masih menunggu huruf pertama mendarat di tuts dan meloncat di layar komputer.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia ungkapkan melalui kata-kata. Begitu berjubelnya, hinga sulit baginya untuk sekadar menetapkan skala prioritas: peristiwa apa yang paling mendesak otaknya untuk dipindahkan ke layar monitor; menjadi kata demi kata, menjadi kalimat demi kalimat, puluhan paragraf serta judul demi judul cerita. Padahal hampir kesemuanya telahlah berhasil menguras energinya, terutama energi jiwa dan nuraninya. Menyita hampir seluruh degup detik-detik hidupnya.
Ia ingat, pada umur sepuluh tahun, ia memandang dengan mata kepala sendiri saat tetangga sebelah rumahnya datang mengabarkan kematian ayahnya yang sudah seminggu tak tentu rimba. Tetangga itu mengatakan: mayat ayahnya ditemukan tergeletak di semak-semak di sudut kampung, berhimpitan dengan sekitar sepuluh mayat lainnya. Waktu itu ia belum tahu apa-apa, belum bisa mencerna dengan rasional tentang apa penyebab, siapa yang membunuh dan kenapa ayahnya mati. Ia masih terlalu ingusan untuk tahu dan diberitahu.
Baru tujuh tahun kemudian Ibunya membuka tabir itu padanya: Ayahnya mati diberondong peluru pihak militer pemerintah berkuasa, saat ikut dalam sebuah tabligh akbar di kota. Memang bukan Tabligh Akbar biasa, melainkan sebuah Tabligh Akbar yang penuh dengan kritikan tajam terhadap kepemimpinan pemerintahan yang korup, otoriter, dan sangat diktator.
Sebenarnya ayahnya telah lama jadi incaran pihak berwajib, karena dianggap sangat kritis dan sering menulis di harian ibukota mengenai berbagai ketimpangan yang terjadi di masyarakat, mulai dari korupsi yang merajalela, birokrasi yang sangat tidak berpihak pada rakyat, usaha maksiat milik orang-orang dekat para penguasa yang semakin meracuni masyarakat, pendidikan formal yang amburadul, para penduduk yang sering tergusur dan diganti rugi secara tidak adil, dan seabreg lainnya yang sempat mempengaruhi opini pembaca, termasuk anggota Tabligh Akbar yang sedang berkumpul di lapangan itu.
Semua itu terngiang, terjulur, dan pasrah bersekutu dalam pikirannya. Dan, ya Tuhan, kesemua itu tak mampu ia tumpahkan dengan kata-kata.
Sebetulnya selama ini orang mulai bertanya-tanya: ke mana penulis satu itu? Sudah tak tampak lagi buah karyanya muncul di koran serta majalah sastra. Sudah tak muncul lagi buku demi buku yang begitu meluluhlantakkan perasaan penggemarnya. Ya, orang mulai bertanya-tanya. Mulai mengira-ngira. Dan si penulis seolah bagai tak terusik dengan semua keheranan itu. Seolah hilang ditelan malam saat hujan tertumpah dahsyat. Ah, andai penulis itu tahu, betapa orang-orang gatal menunggu karyanya yang selalu menggetarkan. Penggemarnya hanya dapat menikmati juluran pikirannya lewat buku-bukunya yang selalu dicetak ulang oleh penerbit. Tapi tetap saja ia tak pernah menjulurkan kabar.
Pernah suatu hari seorang kawannya bertanya, mengapa kau tak menikah serta membangun sebuah rumah tangga yang manis? Hingga tak perlu kesepian seperti ini. Lalu apa jawab penulis itu; ah, kesepian bukan sesuatu yang kupilih, jawabnya, tapi dialah yang memilih diriku. Keadaanlah yang menuntutku seperti ini. Kehilangan, kematian, dan kepahitan sudah melantun dalam hidupku. Mungkin terdengar klise di telinga orang lain, tapi tidak untuk aku. Siapa yang tak terbata-bata kalau harus kehilangan orang-orang terdekatnya. Kehilangan ayahku. Kehilangan saudaraku. Kehilangan teman-temanku. Serta kehilangan gadisku. Dan semua itu begitu beruntun dan mampir berulang-ulang dalam hidupku. Aku bukan lelaki cengeng atau melankolis, tapi mengapa itu selalu terjadi pada diriku. Seperti tak ada habisnya.
Beberapa tahun setelah ayahnya wafat, ia kehilangan adik perempuan satu-satunya. Adiknya mati setelah diperkosa beramai-ramai di sebuah gerbong tak terpakai beberapa ratus meter dari gubuknya. Ia mendapati berita itu ketika sibuk memulung, sebuah pekerjaan tetap yang akhirnya mesti ditempuhnya setelah ibunya tak mampu lagi menyekolahkannya. Ibunya hanya bisa jadi tukang cuci musiman yang bekerja di rumah-rumah orang gedongan di pusat kota.
Waktu itu, ia menangis sejadi-jadinya. Ia begitu sedih dan kehilangan, karena ia sangat menaruh harapan besar pada adiknya. Ia sampai rela tak masuk-masuk lagi sekolah asalkan adiknya tetap sekolah. Meski SPP sering dicicil dan bahkan telat, ia mesti sekolah. Biarlah hasil memulungnya dan kerja mencuci ibunya sedikit demi sedikit dikumpulkan asal adiknya sekolah. Karena ia pikir, akan jadi apakah adiknya, jika sekolah pun tidak, sudah cukuplah beban sebagai perempuan memberatkan prospek kehidupannya kelak. Ia mesti sekolah, apalagi zaman semakin garang, melindas manusia-manusia yang tak kokoh berdiri menempuh arus besarnya.
Tinggallah ia bersama ibunya yang semakin renta. Pada beberapa tahun, cukuplah ia dapat hidup dari hasil memulung dan cucian, ditambah sesekali merajut. Ia kumpulkan sedikit demi sedikit, kemudian ia jadikan modal masuk les bahasa Inggris, sampai setahun ia les sembari kerja memulung.
Setelah lulus les bahasa Inggris, ia kemudian belajar jadi penerjemah, pekerjaan sulit-sulit mudah yang ternyata jadi titik balik kehidupannya. Ya, sejak saat itu ia kenal dengan buku, sejak saat itu ia membaca karya-karya dunia. Ia baca buku-buku peraih nobel, ia baca teori-teori ilmu sosial. Di pustaka daerah ia jadi anggota, di British Council ia jadi pelanggan setia peminjam buku, dan di sanalah ia kenal ekonomi itu apa, usaha itu apa, cara-cara bisnis yang sukses itu apa.
Sampai suatu ketika, gubuk yang berubah menjadi rumah permanen itu kena gusur. Dan ibunya jadi sangat sedih, karena itu berarti mesti cari tanah dan rumah lagi. Padahal yang namanya ganti rugi selalu membawa kerugian, itulah makanya namanya ganti -rugi, diganti juga tapi tetap rugi. Maka terkatung-terkatung lagilah ia dan ibunya. Padahal di kepalanya bergentayangan ide-ide, padahal ia ingin memuntahkannya, jadi penulis, jadi seorang yang melihat dunia.
Kemudian kembalilah ia melanjutkan kehidupannya di sebuah gubuk yang sangat sederhana. Bersama ibunya yang mulai sakit-sakitan dan tak mampu lagi bekerja seperti biasa. Maka menerjemah, itulah satu-satunya sumber hidupnya dan ibunya. Sesekali dengan perasaan senang yang amat sangat, dikerjakannya terjemahan buku-buku tebal terbitan terbaru, mengenai ekonomi, dan itu jadi modal baginya untuk membuka usaha sebuah warung makan, warung yang sangat mengikuti perkembangan terakhir.
Ia buat suasana warung itu sebagai kafe yang sederhana namun bersih dan bermenukan racikan-racikan lezat dan khas. Pertama hanya ia dan ibunyalah pekerja sekaligus pemilik warung itu, warung dari hasil terjemahannya bertahun-tahun. Kemudian ketika usahanya tambah maju, ia mulai berani mempekerjakan orang sebagai tenaga upahan. Sembari menjalankankan usahanya itu, ia mulai menulis, ia tulis apa saja, dan entah kenapa redaktur kota di mana ia tinggal selalu tak bisa melepaskan keterpesonaannya akan tulisan-tulisannya. Ia juga merasa heran kenapa bisa. Tapi mungkin wajar juga, bukankah almarhum ayahnya dulu adalah seorang penulis tajam dan bahkan ditakuti penguasa di zamannya.
Lama-lama usahanya semakin maju, tulisannya semakin gencar. Bahkan sudah ada yang berbentuk buku. Di mana-mana ia diwawancarai tentang proses kreatifnya. Gubuknya menjelma rumah permanen yang tak lagi sederhana walau tak terlalu mewah. Ibunya kembali bahagia, serasa mendapatkan kembali kesenangan di waktu ia dan suaminya mulai merintis hidup baru dulu. Ia pun kemudian menjadi penulis terkenal. Ia dianggap punya keistimewaan, karena bermodalkan otodidak, ia bisa menjadi penulis berpengaruh di zamannya.
Sampai pada suatu ketika, ketika, saat ia menghadiri pertemuan pengarang nasional, Ibunya jatuh sakit dan meninggal mendadak. Ia mendapati kabar itu pas saat ia masih melantunkan berbagai teori menulis berikut prakteknya, pengalamannya dalam mentransformasikan ide-idenya ke dalam esai, cerpen, ataupun novel. Dan panitia pertemuan pengarang itu membisikinya dari belakang podium dengan amat berat, takut sang tokoh kita ini menjadi shock dan kehilangan konsentrasi.
"Pak, mmmm, saya harap Bapak tidak begitu terkejut dan bisa memendam kesedihan," bisik panitia itu.
"Ada apa?" sama sekali ia tak berpikiran ke arah yang tidak-tidak.
"Anu Pak…"
"Apa? Cepat kasi tahu saya dong, audiens pasti sudah tidak sabar, nih."
"Begini Pak, barusan ada telepon dari rumah sakit pusat, mereka mengabarkan, Ibu Bapak baru saja pergi untuk selama-lamanya."
"Apa? Ibuku meninggal?"
"Ya, begitulah, Pak."
Dengan terburu-buru, bahkan lupa untuk minta maaf meninggalkan forum, Ia segera turun dan menghambur ke belakang pentas, keluar lewat pintu belakang. Ia langsung tancap gas dengan sedan sederhananya dan melaju di jalan raya menuju rumah sakit pusat.
Di sana ia dapati jenazah Ibunya dalam keadaan rusak berat. Menurut keterangan dokter yang memvisumnya, kepala Ibunya terlindas roda truk proyek yang melintas saban hari di daerah sekitar kafe mungilnya di sisi kota. Ibunya memang sedang sial, tak beberapa lama setelah mengecek susunan mobil yang parkir di lapangan parkir tepat di depan kafe itu, tiba-tiba saja truk itu nyelonong masuk dengan tak terkendali ke areal halaman kafe, kemudian tanpa terkontrol lagi melindas tubuh ibunya yang ringkih, lalu melibas kafenya yang berdinding anyaman bambu, gaya arsitektur tradisional.
Ia waktu itu tak bisa menangis. Airmatanya mungkin sudah kering. Rentetan pengalaman pahit yang dialaminya sepanjang hidupnya telah mengubah matanya jadi hanya organ pelihat dunia, tak lagi sekaligus penampung stok airmata. Begitulah, ia hanya bisa merenungi kepergian Ibunya dengan cara berduka yang mungkin sangat beku.
***
Penulis itu belum mati. Tepat saat tim paramedis itu datang dan hendak menggendong tubuhnya untuk dibaringkan ke ranjang dorong, untuk kemudian dibawa via ambulan untuk divisum di Rumah Sakit, penulis itu baru saja memulai ketukan pertamanya di tuts komputernya. Begitu berat tubuh itu. Begitu dingin. Tim paramedis itu mencoba meraba nadinya, dan memang sudah tak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Denyutnya kosong. Nol. Dengan posisi yang masih duduk sempurna, detak jantungnya diraba dan ternyata juga nihil. Ia secara biologis sudah mati!
Tapi tetap saja tubuh itu seperti menancap di kursi. Tangannya menari-nari di tuts komputer. Sebuah heading novel yang dasyat, yang mempesona dan kreatif. Tim paramedis itu hanya dapat terkesima saat di layar komputer itu terpampang kalimat demi kalimat yang mengalir bagai sungai dan seperti mencuat dari kepala dan hati si penulis itu.
Paramedis mencoba mengangkat tubuh itu lagi. Aneh, tubuh itu semakin dingin dan berat, wajahnya semakin mempertegas kematiannya. Tapi jari-jari tangannya malah semakin menggila, melincah menekan huruf-huruf dan koma dan titik untuk menampilkan sebuah novel yang terdahsyat di dunia, tulisan yang tak pernah terjangkau oleh penulis kaliber dunia sekalipun.
"Penulis ini belum mati!" ujar salah seorang dari tim paramedis itu.
"Penulis ini sudah mati, coba periksa nadinya, raba jantungnya. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan," timpal yang lain.
"Tidak! Kau buta, ya? Lihat layar komputer, dia masih menulis."
"Kita sekarang mau membiarkannya menulis terus atau membawanya ke rumah sakit untuk divisum, sih?" sela salah satu yang lain lagi.
"Nah, lihat, tangannya bergerak terus menekan tuts."
"Penulis ini manusia, apa bukan?"
"Aneh. Penulis ini barangkali makhluk jadi-jadian."
"Tapi, penulis ini belum……….."
"Sudah! Tapi, aneh, penulis ini…..???"
Tim para medis itu tetap berdebat, hingga tak terasa telah berjam-jam mereka di sana. Setiap tubuh itu hendak diangkat, manusia yang terkenal sebagai penulis itu semakin semangat menulis, dan tubuhnya pun semakin berat. Menancap di kursi putar itu.
Bertahun-tahun kemudian novel yang ditulisnya mendapat penghargaan dari dunia sebagai novel terbaik sepanjang masa. Namanya mengharum, memecahkan rekor keterkenalan mana pun dan kapan pun dalam sejarah manusia. Dan walau tubuhnya hanya tinggal rangka, ia tetap menulis, menulis ribuan novel lanjutan, jutaan puisi dan esai, memahat segala luka, borok, tragik kemanusiaan dan kehewanan umat manusia. Tim para medis itu telah tua pula, kembali ke kehidupan mereka masing-masing yang menjemukan, meninggalkan sang penulis dalam rumah yang kini telah menjadi museum kepenulisan.
Penulis itu belum mati.
***
Jalan Nanas, Bandung, November 2001-Januari 2002. Ditemani gorengan, bercangkir-cangkir kopi, dan gelak tawa, kotretan ini ditulis bersama dengan Mohammad Isa Gautama, dan Daniel Mahendra. Comment deleted at the request of the author.
 | Ai-ai... tulisan lama ini terselip di mana? Kau sibak debu yang menutupinya selama ini? Mestikah kubaca lagi? danielcmahendra.wordpress.com |
 | hahaha, aku sudah lama merindukan cerpen ini, ceerpen yang kita bikin bertiga dengan rana di jalan nanas 21, sambil gangguin rana yang lagi sibuk dikejar-kejar dead-line Surabaya post-nya. hahahahaha (Mohammad Isa Gautama)
|
 | Daniel dan Mas rana yang baik, kapan kita reunian? Aku masih di padang, masih belum bisa ke mana-mana, sibuk bikin anak pertama ma istri tercinta. hahahahaha. But, around Juni or july 2008, maybe we'll be in bandung, cause my little sister will be married at that time... Daniel, sampai kapan kau bersepi-sepi tanpa "Alina" mu, yang 24 jam bisa dekat kau. Sekarang kan gak bisa 24 jam. Cuma bisa 8 jam. Kayak jam kantor. hahahahahaha Ups, Soryyy! Aku rindu kalian semua!!! MANA BANDUNGKU? |
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
 | Daniel dan Mas rana yang baik, kapan kita reunian? Aku masih di padang, masih belum bisa ke mana-mana, sibuk bikin anak pertama ma istri tercinta. hahahahaha. But, around Juni or july 2008, maybe we'll be in bandung, cause my little sister will be married at that time... Daniel, sampai kapan kau bersepi-sepi tanpa "Alina" mu, yang 24 jam bisa dekat kau. Sekarang kan gak bisa 24 jam. Cuma bisa 8 jam. Kayak jam kantor. hahahahahaha Ups, Soryyy! Aku rindu kalian semua!!! MANA BANDUNGKU?  Isa dan Rana yang baik, kapan kita bikin anak pertama sama istri tercinta? Aku masih di Bandung, masih belum bisa ke mana-mana, sibuk reunian… Hahahaha…!!! Bersepi-sepi tanpa Alinaku? Siapa yang bersepi-sepi? Dan siapa bilang ‘tanpa’ Alina? Apa mesti dipublish? Kami sedang asyik sendiri. Uhuy! 25 jam sehari! Kalian semua rindu aku!!! Mana Padangku… Huahahaha!! :D |
|